Menyantap hidangan berkuah asli Cirebon ini bukan hanya bikin kenyang tetapi juga bisa mengobati rasa kangen kampung. Sajian khas dari kota udang ini bisa jadi menu makan siang yang mantap. Cukup dimakan dengan nasi putih atau lontong plus sedikit sambal. Rasanya gurih lezat!
Nama empal gentong memang sesuai dengan bahan utama racikan hidangan berkuah asal Cirebon ini. Nama empal menunjukkan bahan utamanya memang daging sapi dengan sedikit lemak. Sedangkan sebutan gentong untuk menunjukkan proses memasaknya memakai kuali atau periuk tanah liat.
Istilah empal di Cirebon adalah gulai, bukan gepuk atau dendeng. Disebut demikian karena dimasak paling sedikit lima jam dalam gentong atau kuali menggunakan bahan bakar khusus, yaitu kayu dari pohon asam. Hal itu guna menciptakan rasa dan tingkat keempukan daging.
Cara memasak dengan kuali ini sudah dilakukan secara turun temurun. Wadah tanah liat yang sudah dipakai bertahun-tahun akan memberi sentuhan rasa sedap yang tiada tara. Tentu saja karena kerak bumbu sudah mengendap di pori-pori tanah liatnya.
Pada saat disajikan api harus tetap membara untuk menjaga suhu makan standar. Paduan daun kucai sebagai penyedap sekaligus penetralisir lemak serta sambal cabai kering dan kerupuk rambak menjadikan rasa yang khas. Cabai kering ini dipakai supaya tidak menimbulkan sakit perut bagi orang-orang yang tidak kuat pedas.
Salah satu penjual empal gentong yang enak di Cirebon adalah di Zone Kuliner Jl. Kartini 10 yang lokasinya dekat dengan Mesjid Agung At-Taqwa seb. Rel Kereta Api Cirebon-Surabaya. Ia mulai berjualan di tempat itu sejak tahun 2009. Setiap hari dibutuhkan 20 kilogram daging sapi.
Dari 20 kilogram daging tersebut, tidak semuanya murni daging tetapi ada campurannya juga, seperti paru, babat, iso, tulang muda. Tinggal dipilih sesuai dengan selera. “Kalau orang zaman dulu malah sempat pakai daging kerbau. Itu juga karena populasinya masih banyak dan juga dipercaya punya efek kuat untuk kebutuhan jasmani,” ujar Sutiah (43) sambil tersenyum.
Kepala sapi
Sesuai dengan namanya, empal gentong, daging dimasak di dalam gentong dari tanah liat selama lebih dari 10 jam. Yang dimasak tidak terbatas hanya daging, tetapi juga jeroan seperti limpa, paru, hati, usus, babat, bahkan kepala sapi. “Soalnya memang ada yang suka,” ujarnya.
Pembeli bisa memilih sendiri daging atau jeroan yang dikehendaki. Setelah itu daging dalam gentong tadi akan dipotong kecil-kecil dan disiram dengan kuah. Di atasnya lalu ditaburi bawang goreng dan daun bawang. Empal gentong bisa disajikan dengan nasi atau lontong, sesuai selera pengunjung.
Kini empal gentong Keraton dijual Rp 13.000 per porsi. Sebagai pelengkap, biasanya disediakan kerupuk lambak (kerupuk kulit kerbau) yang didatangkan dari Plered, disebut derokdok.
Selain di Zona Kuliner Jl. Kartini 10 Cirebon, empal gentong Keraton juga bisa di temukan di beberapa tempat di Cirebon seperti di Kedawung, empal gentong Keraton bisa juga ditemukan di Jl. Raya Barat Karangampel Inderamayu.